Jelajah Outdoor atas undangan WISE Steps Foundation dan Planeterra sukses menyelenggarakan Pelatihan Outdoor Risk Management dan Wilderness First Aid bagi Woman Guide Rinjani pada 13–15 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh 30 pemandu gunung wanita yang aktif mendampingi pendaki di kawasan Gunung Rinjani, Lombok.
Seiring meningkatnya minat wisata petualangan dan pendakian gunung di Indonesia, kebutuhan terhadap sistem keselamatan dan manajemen risiko yang baik juga semakin penting. Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan jumlah pendaki turut diiringi dengan meningkatnya potensi kecelakaan dan insiden di jalur pendakian, mulai dari hipotermia, tersesat, cedera, kelelahan ekstrem, hingga berbagai kondisi kedaruratan medis lainnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas keselamatan, kemampuan mitigasi risiko, serta keterampilan pertolongan pertama bagi para pemandu gunung dan pelaku kegiatan outdoor menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Oleh karena itu, pelatihan Outdoor Risk Management ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kompetensi para pemandu gunung wanita agar mampu memberikan pengalaman pendakian yang aman, profesional, dan bertanggung jawab bagi wisatawan, sekaligus mendorong terbentuknya budaya keselamatan dalam kegiatan outdoor dan adventure di Indonesia.
Kegiatan Pelatihan Outdoor Risk Management dan Wilderness First Aid ini secara resmi dibuka oleh Bp. Dwi Pangestu selaku Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I Taman Nasional Gunung Rinjani. Kegiatan pembukaan juga dihadiri oleh Hardam Saputro dari Planeterra serta Hidayat Nur Faizi dari Wise Step Foundation yang terus memfasilitasi selama 3 hari pelatihan.
Dalam sambutannya, Dwi Pangestu menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan pelatihan yang dinilai sangat relevan untuk meningkatkan kapasitas keselamatan para pemandu gunung wanita di kawasan Rinjani.
“Pelatihan Outdoor Risk Management & Wilderness First Aid yang telah dilakukan sangat penting dan memberi manfaat bagi Woman Guide Rinjani dalam mitigasi dan meminimalkan potensi insiden yang mungkin terjadi selama pendakian. Pemandu yang telah mengikuti pelatihan tentunya memiliki bekal yang dapat meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi klien pendaki yang dibawanya. Semoga pelatihan serupa dapat kembali dilakukan ke depannya. Bravo dan sukses selalu. Rinjaninte, Rinjani kita,” ujarnya.

Woman Guide Rinjani sebagai Pelopor Pemandu Gunung Wanita Indonesia
Asosiasi Woman Guide Rinjani dikenal sebagai komunitas sekaligus asosiasi pemandu gunung wanita yang berada di kawasan Gunung Rinjani. Organisasi ini menjadi salah satu pelopor komunitas pemandu perempuan di Indonesia yang berfokus pada pemberdayaan perempuan lokal melalui profesi kepemanduan gunung.
Selain mendampingi wisatawan dalam aktivitas pendakian, Woman Guide Rinjani juga aktif mendorong penerapan budaya keselamatan, pelestarian lingkungan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor wisata alam dan petualangan. Dengan demikian, kegiatan pelatihan outdoor risk management ini dinilai sangat relevan untuk mendukung profesionalisme dan kesiapsiagaan anggota di lapangan.
Ketua Asosiasi Woman Guide Rinjani, Sukatni, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program tersebut.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada para pemandu gunung wanita untuk mempelajari tentang manajemen risiko dan pertolongan pertama di alam bebas. Semoga kesempatan untuk terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan selalu terbuka,” ujar Sukatni.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan peningkatan kapasitas bagi pemandu gunung wanita masih sangat besar, terutama dalam aspek keselamatan dan penanganan situasi darurat di alam bebas.
Materi Pelatihan Fokus pada Sistem Keselamatan dan Penanganan Darurat
Pelatihan menghadirkan dua narasumber dari Jelajah Outdoor, yaitu Sandi Taruni dan Wigoo Prihadi. Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi yang dirancang secara aplikatif dan sesuai dengan tantangan di lapangan.
Materi pelatihan mencakup identifikasi dan penilaian risiko kegiatan outdoor, pengelolaan keselamatan pendakian, penyusunan Emergency Response Plan, hingga praktik Wilderness First Aid. Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti simulasi kasus dan latihan berbasis skenario yang menggambarkan kondisi nyata di jalur pendakian.
Selain itu, sesi praktik lapangan menjadi salah satu bagian yang paling diapresiasi peserta. Melalui simulasi tersebut, peserta dapat memahami cara mengambil keputusan dalam kondisi darurat, melakukan pertolongan pertama di alam bebas, serta mengelola risiko secara sistematis selama kegiatan pendakian berlangsung.


Antusiasme Peserta Tinggi Selama Pelatihan
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan keterlibatan dan antusiasme yang sangat positif dalam setiap sesi pembelajaran. Hal ini terlihat dari partisipasi aktif peserta saat diskusi, simulasi, maupun praktik penanganan kasus di lapangan. Tidak hanya mengikuti materi secara teori, peserta juga terlibat aktif dalam sesi workshop penyusunan berbagai format dan instrumen yang dibutuhkan untuk mendukung penyusunan Standard Operating Procedure (SOP), Risk Management Plan, serta Emergency Response Plan yang aplikatif untuk kegiatan pendakian dan guiding di kawasan Rinjani.
Selain itu, kesungguhan peserta juga terlihat selama pelaksanaan simulasi lapangan. Para peserta mengikuti setiap skenario dengan serius dan penuh semangat, mulai dari proses identifikasi risiko, penanganan korban, komunikasi darurat, hingga pengambilan keputusan dalam situasi kritis. Pendekatan berbasis simulasi ini dinilai sangat membantu peserta untuk memahami penerapan manajemen risiko secara nyata sesuai tantangan yang sering dihadapi saat mendampingi pendaki di lapangan.
Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, materi yang diberikan dinilai relevan dengan kebutuhan para pemandu gunung perempuan yang sehari-hari bekerja di kawasan Gunung Rinjani. Di sisi lain, pelatihan ini juga berhasil meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya budaya keselamatan dan penerapan manajemen risiko dalam kegiatan outdoor dan petualangan.

Peserta Merasakan Manfaat Langsung dari Pelatihan
Salah satu peserta, Denda Atika Susanti , mengungkapkan bahwa pelatihan outdoor risk management ini memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mudah dipahami.
“Pertama, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak dan ibu narasumber karena selama training ini kami mendapatkan ilmu yang sangat penting dan bermanfaat bagi kami di Rinjani Women. Pelatihan ini sangat berkesan, memuaskan, dan luar biasa, terutama karena materi yang diberikan sangat relevan dengan kegiatan kami sebagai pemandu gunung. ” katanya.
Sementara itu, peserta lainnya yang merupakan salah satu guide senior, Ermawati, berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala.
“Pertama, saya mengucapkan terima kasih kepada para narasumber atas pelatihan yang telah diberikan selama tiga hari ini. Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya karena membuat saya menjadi lebih percaya diri setelah mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan baru. Sebelumnya, saya belum memahami tentang pertolongan pertama di alam bebas, namun melalui pelatihan ini saya mulai memahami apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi dan situasi darurat yang sering terjadi berdasarkan pengalaman para pemandu gunung. ” ujarnya.
Testimoni peserta tersebut memperlihatkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik dan simulasi mampu membantu peserta memahami materi secara lebih efektif. Tidak hanya meningkatkan pengetahuan, pelatihan ini juga membangun rasa percaya diri peserta saat menghadapi situasi darurat di lapangan.
Rekomendasi untuk Pengembangan Program Selanjutnya
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, terdapat beberapa rekomendasi yang dihasilkan untuk pengembangan program ke depan. Pertama, penting untuk menyusun Risk Management Plan dan Emergency Response Plan yang lebih aplikatif dan mudah diterapkan oleh para pemandu di lapangan.
Selain itu, peserta juga merekomendasikan agar pelatihan berbasis skenario outdoor terus dilanjutkan dengan durasi praktik yang lebih panjang. Workshop penyegaran secara berkala juga dianggap penting guna menjaga konsistensi keterampilan dan kesiapsiagaan para pemandu gunung.
Di samping itu, latihan terkait pelaporan dan dokumentasi insiden perlu lebih diperkuat agar setiap kejadian di lapangan dapat terdokumentasi dengan baik sebagai bagian dari sistem keselamatan kegiatan outdoor.

Dibutuhkan kolaborasi lintas stakeholder dalam penguatan aspek keselamatan
Melalui pelatihan outdoor risk management ini, Jelajah Outdoor kembali menegaskan komitmennya dalam melakukan advokasi serta meningkatkan awareness mengenai pentingnya penguatan aspek keselamatan, manajemen risiko, dan kesiapsiagaan darurat dalam setiap kegiatan outdoor dan adventure. Keselamatan dalam aktivitas alam bebas tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas stakeholder, mulai dari komunitas pemandu, organisasi, sektor pariwisata, pemerintah, hingga lembaga pendukung lainnya.
Kolaborasi antara Asosiasi Woman Guide Rinjani, WISE Steps Consulting, Planeterra, serta berbagai pihak yang terlibat dalam pelatihan ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia outdoor di Indonesia. Ke depan, peningkatan kompetensi dan budaya keselamatan diharapkan tidak hanya menjadi kebutuhan teknis, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem wisata petualangan yang aman, profesional, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Hubungi kami untuk mendapatkan informasi tentang pelatihan Keseelamatan di Alam
Ingin tahu lebih banyak tentang Outdoor Safety Management System
Whatsapp: 085882107460