Mengapa Manajemen Risiko Destinasi Wisata Alam Penting di Indonesia?

Pada 28 Agustus 2026, Jelajah Outdoor berkesempatan memfasilitasi Brainstorming Training of Trainers (ToT) “Mengelola Risiko, Menjaga Destinasi” melalui Zoom Webinar. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta dari berbagai wilayah di Provinsi Jawa Tengah dan menjadi ruang untuk berbagi perspektif mengenai pentingnya keselamatan dan manajemen risiko dalam pengelolaan destinasi wisata alam dan petualangan.

Manajemen Risiko Destinasi Wisata Alam di Indonesia

Kegiatan ini menghadirkan Fadjar Hutomo, Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata, dalam sesi opening remarks. Sesi utama disampaikan oleh Sandi Taruni, Founder & Director Jelajah Outdoor, dengan Priadi Wibisono dari Perhimpunan Pelestari Indonesia sebagai moderator dan Cahyo Nugroho, S.Tr.Par, Pengelola Layanan Operasional Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, sebagai host.

Diskusi dalam webinar tidak hanya membahas bagaimana menghadapi kecelakaan atau keadaan darurat. Lebih jauh, kegiatan ini mengajak para pengelola dan pemangku kepentingan pariwisata untuk melihat manajemen risiko destinasi wisata sebagai bagian dari kualitas destinasi, kepercayaan pengunjung, ketahanan operasional, serta keberlanjutan pariwisata.

Salah satu pesan utama yang menjadi benang merah kegiatan tersebut adalah:

“Risk management memindahkan destinasi dari reactive menjadi prepared.”

Pesan ini menjadi semakin relevan bagi Indonesia, negara dengan kekayaan destinasi wisata alam yang sangat besar sekaligus memiliki karakter lingkungan yang dinamis dan beragam.

Mengapa Manajemen Risiko Destinasi Wisata Penting?

Indonesia memiliki berbagai destinasi wisata alam dengan karakter dan tantangan yang berbeda. Gunung, hutan, sungai, air terjun, pantai, kawasan konservasi, dan jalur petualangan menawarkan pengalaman yang bernilai bagi wisatawan.

[ Baca juga Kemenpar Serap Aspirasi Banyak Pihak dalam Penyusunan Manajamen Risiko Destinasi Pariwisata ]

Namun, pengalaman di alam terbuka selalu memiliki potensi risiko.

Dalam materi webinar, wisata alam digambarkan sebagai sektor “high value, high risk.” Di satu sisi, destinasi wisata alam memberikan manfaat ekonomi dan sosial, seperti peningkatan pengeluaran wisatawan, lapangan kerja lokal, peluang bagi pemandu dan transportasi, penguatan UMKM, perkembangan ekonomi pedesaan, serta peningkatan kesadaran lingkungan.

Di sisi lain, terdapat risiko seperti perubahan cuaca, bahaya alam, human error, kegagalan peralatan, injury, fatality, kerusakan lingkungan, dan operational disruption.

Karena itu, pertanyaan yang perlu dibangun bukanlah:

“Bagaimana membuat destinasi bebas dari risiko?”

Melainkan:

“Bagaimana membuat destinasi mampu memahami dan mengelola risikonya?”

Di sinilah manajemen risiko destinasi wisata menjadi bagian penting dari pengelolaan destinasi, bukan sekadar fungsi tambahan yang dilakukan setelah terjadi insiden.

Destinasi Wisata Alam: Potensi Besar, Risiko Nyata

Keindahan alam sering menjadi alasan utama seseorang memilih sebuah destinasi. Namun, kondisi alam juga menjadi salah satu sumber risiko yang harus dipahami.

Cuaca dapat berubah dengan cepat. Jalur dapat mengalami longsor. Debit sungai dapat meningkat. Pengunjung dapat tersesat. Peralatan dapat mengalami kegagalan. Bahkan keputusan sederhana yang salah dapat berkembang menjadi insiden serius.

Dalam webinar, peserta diajak menggunakan pendekatan sederhana melalui pertanyaan “What if?”

  • What if cuaca berubah tiba-tiba?
  • What if pengunjung tersesat?
  • What if terjadi kecelakaan?
  • What if jalur longsor?
  • What if operator tidak tahu harus berbuat apa?

Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan.

Sebaliknya, what if adalah cara untuk membangun risk awareness.

Sebuah destinasi yang siap bukan berarti destinasi yang dapat memprediksi semua kejadian. Destinasi yang siap adalah destinasi yang telah memikirkan skenario yang mungkin terjadi dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan ketika situasi berubah.

Keselamatan Bukan Sekadar Kepatuhan

Salah satu pembahasan penting dalam webinar adalah bahwa keselamatan bukan sekadar kepatuhan.

Memiliki SOP atau memenuhi persyaratan tertentu memang penting. Namun, keselamatan yang sebenarnya membutuhkan sistem yang dapat bekerja dalam kondisi nyata.

Risiko yang tidak dikelola dapat berkembang dari hazard menjadi incident, kemudian injury atau fatality, dan selanjutnya berdampak pada public trust, destination reputation, visitor confidence, ekonomi, hingga keberlanjutan destinasi.

Artinya, sebuah insiden keselamatan dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada kejadian awalnya.

Ketika pengunjung mulai kehilangan kepercayaan terhadap sebuah destinasi, dampaknya dapat dirasakan oleh operator, pemandu, masyarakat lokal, UMKM, pemerintah daerah, dan pihak lain yang bergantung pada aktivitas pariwisata.

Karena itu, keselamatan seharusnya dipandang sebagai bagian dari:

  • destination quality,
  • visitor confidence,
  • public trust,
  • business continuity, dan
  • destination sustainability.

Dengan perspektif ini, investasi dalam keselamatan bukan hanya biaya operasional. Ia merupakan investasi untuk menjaga kualitas dan ketahanan destinasi.

Dari Reactive Menjadi Prepared

Lalu, apa yang sebenarnya berubah ketika sebuah destinasi mulai menerapkan sistem manajemen risiko?

Materi webinar menggambarkan enam komponen utama yang perlu diperhatikan:

  1. Hazard Identification
  2. Risk Assessment
  3. Risk Control
  4. Staff Competence
  5. Emergency Preparedness
  6. Monitoring & Review

Proses dimulai dengan mengenali bahaya yang ada di destinasi.

Setelah itu, risiko perlu dinilai untuk memahami kemungkinan dan konsekuensinya. Hasil penilaian tersebut menjadi dasar untuk menentukan pengendalian yang sesuai.

Namun, sistem tidak berhenti pada pengendalian.

SDM perlu memiliki kompetensi yang sesuai. Destinasi juga perlu memiliki kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat. Selanjutnya, sistem harus dimonitor dan direview untuk memastikan bahwa pembelajaran dari pengalaman digunakan untuk melakukan perbaikan.

Tujuan akhirnya adalah:

Better Decision → Lower Consequence → Faster Response → Greater Confidence.

Inilah alasan mengapa manajemen risiko destinasi wisata bukan sekadar dokumen atau checklist.

Manajemen risiko merupakan proses untuk meningkatkan kualitas keputusan sebelum, selama, dan setelah sebuah kejadian.

Risiko yang Sama, Dampak yang Berbeda

Dalam materi webinar terdapat ilustrasi “Dua Destinasi – Satu Risiko.”

Destinasi A menggambarkan pendekatan yang lebih reaktif: risiko diketahui secara informal, SOP hanya tersedia sebagian, kompetensi banyak bergantung pada pengalaman individu, cuaca dipantau ketika kondisi sudah buruk, emergency response menunggu kejadian, dan data insiden tidak terdokumentasi.

Sebaliknya, Destinasi B mengidentifikasi risiko secara sistematis, memiliki SOP yang jelas, mengembangkan kompetensi SDM, menjadikan kondisi cuaca sebagai bagian dari keputusan operasional, memiliki emergency plan, serta mencatat incident dan near miss.

Keduanya dapat menghadapi risiko yang sama.

Namun, dampaknya dapat berbeda.

Perbedaannya terletak pada kesiapan sistem.

Manajemen risiko juga tidak menjanjikan “zero incident.” Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan destinasi untuk mencegah, merespons, dan belajar dari risiko.

Perspektif ini penting karena tidak ada destinasi wisata alam yang benar-benar bebas dari risiko.

Yang dapat dibangun adalah destinasi yang lebih siap menghadapi risiko.

Apa yang Terjadi Jika Destinasi Tidak Memiliki Sistem?

Ketika sistem manajemen risiko tidak tersedia atau tidak berjalan dengan baik, sebuah insiden dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Materi webinar menggambarkan sebuah rantai konsekuensi:

Incident → Response Chaos → Delay → Public Concern → Reputation Damage → Economic Impact → Government Pressure.

Pada saat insiden terjadi, pertanyaan pertama yang muncul mungkin sederhana:

“Siapa yang melakukan apa?”

Jika peran tidak jelas, respons dapat menjadi kacau. Informasi, komunikasi, dan evakuasi dapat mengalami keterlambatan.

Kemudian muncul perhatian dari pengunjung dan masyarakat.

Apakah destinasi aman?

Apakah pengelola memiliki sistem?

Apakah kejadian tersebut dapat terulang?

Ketika kekhawatiran berkembang, reputasi destinasi dapat ikut terdampak. Pada akhirnya, operator, guide, UMKM, masyarakat lokal, dan pemerintah juga dapat menghadapi konsekuensi.

Karena itu, salah satu prinsip yang penting adalah: Biaya terbesar sering kali bukan biaya pencegahan, tetapi biaya ketika kita tidak siap.

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Keselamatan Destinasi?

Manajemen risiko destinasi wisata tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.

Sebuah destinasi merupakan ekosistem yang melibatkan berbagai aktor.

Dalam materi webinar, Destination Risk Management Ecosystem mencakup:

  • Dinas Pariwisata
  • Destination Manager
  • Operator
  • Guide
  • Community
  • Rescue / Emergency Services
  • Health Services
  • Local Government

Masing-masing memiliki peran yang berbeda.

Dinas Pariwisata, misalnya, tidak harus menjadi operator keselamatan. Namun, Dinas Pariwisata dapat menjadi penggerak terbentuknya sistem keselamatan destinasi melalui policy & governance, standards & guidelines, capacity building, serta monitoring & improvement.

Pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap keselamatan.

Bukan lagi:

“Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kecelakaan?”

Tetapi:

“Bagaimana seluruh ekosistem bekerja bersama untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kesiapan?”

Apakah Kita Memiliki Sistem atau Hanya Orang Berpengalaman?

Salah satu pertanyaan reflektif dalam materi webinar adalah:

“Apakah kita memiliki sistem manajemen risiko atau hanya memiliki orang-orang yang berpengalaman?”

Pengalaman adalah aset penting dalam pengelolaan wisata alam.

Namun, sebuah destinasi akan rentan jika seluruh pengetahuan keselamatan hanya berada pada beberapa individu.

Apa yang terjadi ketika orang tersebut tidak berada di lokasi?

Bagaimana jika staf baru bergabung?

Bagaimana pengetahuan tersebut ditransfer?

Bagaimana organisasi memastikan keputusan yang tepat tetap dapat dibuat?

Sistem dibutuhkan untuk memastikan bahwa pengetahuan dan praktik keselamatan tidak hanya bergantung pada individu.

Karena itu, kompetensi SDM dan sistem manajemen risiko perlu dibangun secara bersamaan.

Materi webinar juga menunjukkan berbagai contoh standar dan kompetensi yang dapat menjadi referensi, termasuk SKKNI Pemandu Wisata Gunung, standar CHSE, Ahli K3 Umum, rope access, serta kompetensi keselamatan wisata tirta.

Manajemen Risiko sebagai Destination Resilience

Manajemen risiko memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar mencegah kecelakaan.

Dalam materi “The Real Value of Risk Management”, pendekatan tanpa sistem dibandingkan dengan pendekatan berbasis sistem pada beberapa aspek destinasi.

  • Safety bergerak dari reaktif menjadi preventif.
  • Emergency berubah dari improvisasi menjadi prepared.
  • SDM bergerak dari ketergantungan pada individu menjadi berbasis kompetensi.
  • Keputusan operasional bergerak dari intuisi menjadi berbasis assessment.

Sementara itu, visitor confidence lebih terbangun, risiko terhadap lingkungan lebih dapat dipetakan, masyarakat lebih siap terlibat, reputasi lebih resilient, dan business continuity lebih siap menghadapi disruption.

Inilah alasan manajemen risiko destinasi wisata memiliki hubungan erat dengan destination resilience.

Destinasi yang resilien bukan destinasi yang tidak pernah mengalami gangguan.

Destinasi yang resilien adalah destinasi yang mampu mengantisipasi, merespons, beradaptasi, dan belajar dari berbagai risiko yang dihadapinya.

Bagaimana Mengukur Kesiapan Destinasi?

Kesadaran risiko dapat dimulai dari pertanyaan sederhana.

1. Hazard

Apa lima bahaya utama yang ada di destinasi?

2. Control

Apa yang sudah dilakukan untuk mengendalikan risiko tersebut?

3. People

Siapa yang bertanggung jawab dan apakah mereka memiliki kompetensi yang sesuai?

4. Emergency

Apa yang akan dilakukan ketika terjadi keadaan darurat?

5. Evidence

Apakah tersedia bukti bahwa sistem keselamatan benar-benar berjalan?

Pendekatan ini membantu mengubah pembicaraan mengenai keselamatan dari sekadar konsep menjadi evaluasi yang lebih konkret.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:

“Apakah kita memiliki SOP?”

Tetapi juga:

“Apakah SOP tersebut dipahami, dilatih, diterapkan, dan dievaluasi?”

Karena sistem yang hanya ada di atas kertas belum tentu menghasilkan kesiapan di lapangan.

Dari Risk Management Menuju Destinasi yang Lebih Resilien

Pada akhirnya, manajemen risiko destinasi wisata adalah tentang membangun kemampuan untuk bertindak sebelum risiko berubah menjadi krisis.

  • Bukan menunggu kecelakaan.
  • Bukan menunggu masalah.
  • Bukan menunggu destinasi menjadi viral karena sebuah insiden.
  • Bukan menunggu instruksi.
  • Bukan menunggu korban.

Tetapi bergerak melalui proses:

Identify → Assess → Control → Prepare → Train → Monitor → Improve.

Inilah perubahan dari reactive menuju prepared.

Dan perubahan tersebut tidak hanya penting untuk keselamatan pengunjung.

Ia juga penting untuk menjaga alam, memperkuat masyarakat, mempertahankan kepercayaan wisatawan, melindungi reputasi destinasi, dan menjaga keberlanjutan ekonomi.

Menjaga Destinasi Berarti Menjaga Masa Depan Pariwisata

Brainstorming Training of Trainers “Mengelola Risiko, Menjaga Destinasi” pada 28 Agustus 2026 menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa pengembangan destinasi wisata alam perlu berjalan seiring dengan penguatan keselamatan dan kesiapsiagaan.

Destinasi yang baik bukan destinasi tanpa risiko.

Destinasi yang baik adalah destinasi yang memahami risikonya, mengelolanya, dan siap menghadapi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Bagi Indonesia, membangun budaya keselamatan di destinasi wisata bukan hanya persoalan teknis. Ini merupakan bagian dari upaya membangun pariwisata yang berkualitas, bertanggung jawab, resilien, dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, wisatawan tidak hanya membutuhkan destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Mereka membutuhkan destinasi yang aman untuk dijelajahi.

Masyarakat membutuhkan destinasi yang memberikan manfaat tanpa mengorbankan keselamatan dan lingkungan.

Pengelola membutuhkan sistem yang membantu mereka mengambil keputusan dengan lebih baik.

Dan pemerintah membutuhkan ekosistem destinasi yang mampu mengelola risiko sebelum berubah menjadi krisis.

Mengelola Risiko. Menjaga Alam. Memperkuat Masyarakat. Mendorong Keberlanjutan.

Terima kasih kepada seluruh peserta dan pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Tengah atas partisipasi dan diskusi yang konstruktif dalam kegiatan ini.

Mari bersama membangun destinasi wisata alam Indonesia yang bukan hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga aman untuk dijelajahi, siap menghadapi risiko, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

FAQ – Manajemen Risiko Destinasi Wisata Alam di Indonesia

Apa yang dimaksud dengan manajemen risiko destinasi wisata?

Manajemen risiko destinasi wisata adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, menentukan pengendalian, mempersiapkan respons terhadap keadaan darurat, serta melakukan monitoring dan evaluasi. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan destinasi dalam mencegah, merespons, dan belajar dari risiko.

Mengapa manajemen risiko destinasi wisata penting?

Manajemen risiko penting karena destinasi wisata, khususnya wisata alam, memiliki berbagai potensi bahaya seperti perubahan cuaca, kondisi medan, kecelakaan, kesalahan manusia, dan gangguan operasional. Risiko yang tidak dikelola dapat berdampak tidak hanya pada keselamatan pengunjung, tetapi juga pada reputasi destinasi, kepercayaan wisatawan, ekonomi lokal, dan keberlanjutan destinasi.

Apa saja risiko yang perlu diperhatikan di destinasi wisata alam?

Risiko dapat berbeda sesuai karakter setiap destinasi. Beberapa contoh yang dibahas dalam konteks pengelolaan wisata alam meliputi perubahan cuaca, bahaya alam, human error, kegagalan peralatan, cedera, fatality, kerusakan lingkungan, dan operational disruption. Karena itu, identifikasi risiko perlu dilakukan berdasarkan kondisi dan aktivitas spesifik di masing-masing destinasi.

Apa saja komponen utama manajemen risiko destinasi wisata?

Dalam materi Brainstorming Training of Trainers “Mengelola Risiko, Menjaga Destinasi”, terdapat enam komponen utama:
Hazard Identification
Risk Assessment
Risk Control
Staff Competence
Emergency Preparedness
Monitoring & Review
Keenam komponen tersebut membantu destinasi meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mengurangi konsekuensi, mempercepat respons, dan membangun kepercayaan.

Apakah manajemen risiko dapat menjamin destinasi bebas dari kecelakaan?

Tidak. Manajemen risiko tidak menjanjikan zero incident. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan destinasi untuk mencegah, merespons, dan belajar dari risiko. Dengan sistem yang baik, destinasi dapat menjadi lebih siap menghadapi kondisi yang tidak berjalan sesuai rencana.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap keselamatan destinasi wisata?

Keselamatan destinasi merupakan tanggung jawab bersama dalam sebuah Destination Risk Management Ecosystem. Pihak yang dapat terlibat antara lain Dinas Pariwisata, destination manager, operator, guide, masyarakat, rescue/emergency services, layanan kesehatan, dan pemerintah daerah.
Dinas Pariwisata tidak harus menjadi operator keselamatan, tetapi dapat berperan sebagai penggerak policy & governance, standards & guidelines, capacity building, serta monitoring & improvement.

Apa perbedaan destinasi yang reaktif dan destinasi yang siap menghadapi risiko?

Destinasi yang reaktif cenderung menangani risiko setelah kejadian terjadi. Sebaliknya, destinasi yang prepared berusaha mengidentifikasi risiko lebih awal, memiliki SOP dan emergency plan, mengembangkan kompetensi SDM, menggunakan informasi dalam pengambilan keputusan, serta mendokumentasikan incident dan near miss untuk pembelajaran. Karena itu, manajemen risiko memindahkan destinasi dari “reactive” menjadi “prepared”.

Mengapa kompetensi SDM penting dalam manajemen risiko destinasi wisata?

Sistem keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan SOP atau dokumen. SDM yang terlibat perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan risiko dan aktivitas di destinasi. Materi webinar menekankan staff competence sebagai salah satu komponen utama manajemen risiko, bersama dengan hazard identification, risk assessment, risk control, emergency preparedness, serta monitoring dan review.

Apa hubungan manajemen risiko dengan keberlanjutan destinasi wisata?

Manajemen risiko tidak hanya melindungi pengunjung. Risiko yang tidak dikelola dapat berdampak pada people, environment, community, economy, government, dan destination reputation. Karena itu, manajemen risiko dapat mendukung destination resilience, business continuity, visitor confidence, keterlibatan masyarakat, serta pengelolaan risiko lingkungan yang lebih baik.

Bagaimana cara mengetahui apakah sebuah destinasi sudah siap menghadapi risiko?

Kesiapan dapat mulai dievaluasi melalui beberapa pertanyaan sederhana:
Apakah destinasi telah mengidentifikasi hazard utama?
Apakah risiko telah dinilai dan diprioritaskan?
Apakah tersedia pengendalian dan SOP yang jelas?
Apakah SDM memiliki kompetensi yang sesuai?
Apakah terdapat emergency plan?
Apakah incident dan near miss didokumentasikan?
Apakah sistem keselamatan dimonitor dan direview secara berkala?
Pertanyaan tersebut membantu membedakan antara destinasi yang hanya memiliki orang berpengalaman dengan destinasi yang benar-benar memiliki sistem manajemen risiko.

Ingin mengetahui lebih banyak tentang manajemen risiko destinasi wisata?

Jika Anda adalah pengelola destinasi, operator wisata, guide, organisasi pariwisata, institusi pendidikan, atau pemangku kepentingan yang ingin memperkuat safety, risk management, dan emergency preparedness, mari terhubung dengan Jelajah Outdoor.

Kami membuka ruang untuk:

Jangan menunggu insiden terjadi untuk mulai membangun kesiapan.

From Reactive to Prepared.

Ingin berdiskusi atau mengikuti pelatihan? Hubungi Jelajah Outdoor dan mari mulai membangun sistem keselamatan yang lebih kuat untuk destinasi wisata Indonesia.

Jelajah Outdoor
🌐 jelajahoutdoor.id
📧 info@jelajahoutdoor.id
📱 WhatsApp: 0858 8210 7460



Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

more resources

Sign up for more inspiration

Get notified about new articles